
Sabtu, 9 Januari 2027
Mempelai
Dengan penuh sukacita, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk hadir di hari bahagia kami.
Mempelai Pria
KunsrisoBapak Bebek & Ibu Ayam
Mempelai Wanita
EstehBapak Teh & Ibu Batu
Rangkaian Adat Bali & Jawa
Adat Bali
Pra-acara
Madewasa Ayu
Kedua keluarga bersama-sama menentukan hari baik untuk seluruh rentetan upacara, dari nyedek sampai acara inti, berdasarkan perhitungan ala ayuning dewasa pada kalender (wariga) Bali. Masyarakat Hindu Bali masih menjadikan ala ayuning dewasa sebagai pedoman karena diyakini memengaruhi kelancaran upacara dan kehidupan setelah pernikahan.
Dipimpin: Kedua keluarga, dibantu orang yang memahami wariga/dewasa ay.
Dihadiri: Keluarga inti kedua pihak
Prosesi lamaran. Pihak pria membawa seserahan bernama basan pupur, dimaknai sebagai penghormatan kepada calon pengantin, pengganti air susu ibu, dan pengganti kasih sayang ayah yang merawat mempelai perempuan.
Dipimpin: Utusan/keluarga pihak pria
Dihadiri: Dua keluarga
Calon pengantin perempuan dipersiapkan menyambut kedatangan calon pengantin pria: persiapan mental, doa kepada Ida Sang Hyang Widhi agar dianugerahi kebahagiaan lahir-batin, serta perawatan fisik seperti luluran dan mempercantik diri.
Dipimpin: Keluarga perempuan; pemangku/rohaniwan untuk doa
Dihadiri: Calon pengantin perempuan dan keluarga dekat
Calon pengantin perempuan dijemput keluarga calon pengantin pria menuju kediaman pria. Ia mengenakan pakaian tradisional Bali yang diselimuti kain tipis kuning dari ujung rambut sampai ujung kaki, perlambang siap meninggalkan masa lajang.
Dipimpin: Keluarga pihak pria
Dihadiri: Rombongan penjemput dan keluarga perempuan
Secara harfiah 'membuka pintu'. Utusan pihak pria mengetuk pintu kamar pengantin perempuan, diiringi tembang-tembang Bali sebagai isyarat kedatangan pihak pria, sebelum membawa pengantin menuju rumah.
Dipimpin: Utusan pihak pria
Dihadiri: Rombongan pria dan keluarga perempuan
Ungkapan selamat datang sebelum kedua pengantin masuk rumah pengantin pria. Kain kuning yang menyelimuti pengantin perempuan dilepas, lalu calon ibu mertua menukarnya dengan uang satakan sebagai harapan menyambut dunia baru.
Dipimpin: Ibu mertua (calon)
Dihadiri: Kedua pengantin dan keluarga pria
Penyucian lahir-batin kedua calon pengantin, terutama pada sukla swanita, agar kelak menghasilkan janin suputra. Rangkaiannya: puja astuti, membakar tetimpug, menghadap banten pabyakalaan, pengelukatan, mengelilingi banten pesaksian, dan medagang-dagangan.
Dipimpin: Pemangku/rohaniwan
Dihadiri: Kedua calon pengantin dan keluarga
Akad / pemberkatan
Kedua calon pengantin bersembahyang di merajan atau sanggah keluarga pria. Maknanya menyampaikan kepada leluhur bahwa ada pendatang baru dalam keluarga, sekaligus menandai sahnya pernikahan di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, adat, dan masyarakat. Pada tradisi Hindu Bali inilah pengesahan religius pernikahan (padanan akad).
Dipimpin: Pemangku sanggah, sulinggih, atau ida pedanda
Dihadiri: Kedua pengantin, keluarga besar, dan rohaniwan
Resepsi
Sumber yang dirujuk merinci upacara adat sampai mejauman, tetapi tidak memberi nama tahap khusus untuk resepsi. Dalam praktik, hajatan/resepsi digelar terpisah dari upacara inti; nama dan urutannya berbeda antardaerah di Bali, sebagaimana ditegaskan bahwa tiap daerah memiliki upacara tambahan yang berbeda.
Dipimpin: Keluarga penyelenggara
Dihadiri: Keluarga, kerabat, dan tamu undangan
Pasca-acara
Kedua pengantin bersembahyang di merajan/sanggah keluarga perempuan sebagai isyarat berpamitan pengantin perempuan kepada leluhurnya, karena ia sudah menikah dan mengikuti keluarga pria. Banten yang dipakai antara lain alem, ketipat bantal, sumping, cerorot, apem, kuskus, wajik, kekupa, aneka buah, dan lauk khas Bali.
Dipimpin: Pemangku/rohaniwan keluarga perempuan
Dihadiri: Kedua pengantin dan keluarga perempuan
Adat Jawa
Pra-acara
Tarub
Memasang bleketepe dan berbagai jenis daun di depan rumah, disertai sesaji pisang raja, kembang telon, tumpeng robyong, tumpeng gundul, tumpeng megana, nasi liwet, dan jajan pasar. Diawali doa keluarga dan tamu, diakhiri pembagian sesaji.
Dipimpin: Keluarga
Dihadiri: Keluarga dan tamu undangan
Calon pengantin pria dititipkan di rumah calon mertua atau saudara/tetangga sehari sampai tiga hari sebelum ijab. Kini jarang dilakukan.
Dipimpin: Keluarga
Dihadiri: Kedua keluarga
Dilaksanakan pagi sekitar pukul 10.00–11.00 atau sore pukul 15.00–16.00. Air diambil dari tujuh sumber, memakai kembang setaman dan konyoh lima warna; diakhiri memecah kendi.
Dipimpin: Pinisepuh yang sudah punya anak/cucu, jumlah pemandu ganjil
Dihadiri: Keluarga dan kerabat
Mencukur bulu halus di dahi. Perlengkapannya antara lain kain motif truntum, pisau cukur, kaca, sisir, dan mangkuk air; dilanjutkan rias tipis serta gelung tekuk untuk midodareni.
Dipimpin: Juru rias
Dihadiri: Keluarga dekat
Malam pukul 18.00–24.00 di rumah pengantin perempuan. Pengantin tidak boleh tidur dan tidak keluar kamar, serta tidak bertemu tamu laki-laki maupun calon suami. Uborampe: kembar mayang, kelapa gading, kendi air tujuh sumber, kain motif letek dan suruh ayu.
Dipimpin: Orang tua pengantin perempuan
Dihadiri: Kerabat, tetangga dekat, dan teman dekat
Akad / pemberkatan
Di Keraton Yogyakarta hanya dihadiri pria; Sultan menikahkan, penghulu berkhotbah singkat dalam bahasa Arab, lalu ijab dan qabul. Di luar keraton mengikuti tata cara KUA.
Dipimpin: Sultan (keraton) atau penghulu
Dihadiri: Saksi, wali, dan keluarga pria; di keraton hanya pria
Resepsi
Puncak upacara: balangan gantal (saling melempar sirih tiga sampai empat kali), mijiki (membasuh kaki), mecah tigan (menginjak telur), kacar kucur/tampa kaya (menuang beras kuning), dan dhahar klimah (saling menyuapi nasi). Diiringi gamelan.
Dipimpin: Pinisepuh atau orang yang diberi wewenang; sumber tidak meri.
Dihadiri: Kedua keluarga dan tamu
Pengantin bersimpuh memohon doa restu kepada orang tua. Dalam rangkaian keraton dilakukan sebelum boyongan, setelah Sultan memberi wejangan.
Dipimpin: Pengantin
Dihadiri: Kedua keluarga
Pasca-acara
Tiga hari setelah upacara orang tua pria menengok besan dengan membawa makanan; setelah sepasar (lima hari) pengantin diantar ke rumah orang tua pria dan bermalam di sana.
Dipimpin: Orang tua pengantin pria
Dihadiri: Kedua keluarga
Rangkaian keraton: besan berpamitan kepada Sultan, Sultan memberi wejangan, dilanjutkan sungkeman, lalu rombongan berangkat ke rumah besan.
Dipimpin: Sultan
Dihadiri: Besan dan kedua pengantin
Busana AdatPayas Agung putri: gelungan petitis emas, garuda mungkur, kalung badong, kamen sabuk prada · Payas Agung putra: gelung/tajuk emas (geruda mungkur), kampuh, keris, bros besar · Payas Madya: kamben, kancrik, udeng · Payas Alit (paling sederhana) · Kamen dan sabuk prada
IringanGamelan Gong Kebyar (gangsa, gong, kendang, suling) · Rindik — bilah bambu untuk penyambutan tamu
Detail Acara
Sabtu, 9 Januari 2027 · 06.55 WIB
Di Goa
HEewa
Menuju Hari Bahagia
“Semoga pernikahan ini menjadi rumah yang tenang, tempat dua orang saling menjaga dan bertumbuh bersama.”
MomenIndah
Simbol & Makna
Poleng
Kotak-kotak hitam-putih — konsep Rwa Bhineda: dua hal berlawanan yang harmonis menciptakan keseimbangan.
Endek
Tenun ikat Bali; motif Patra dan Encak Saji dahulu hanya untuk bangsawan dan upacara keagamaan.
Gringsing
Tenun ikat ganda Tenganan: 'gring' (sakit) + 'sing' (tidak) = penolak bala, dipakai dalam upacara termasuk pernikahan.
Prada
Kain/kemasan benang emas — kemuliaan dan kehormatan pada upacara besar.
Konfirmasi Kehadiran
Ucapan & Doa
Jadilah yang pertama memberi ucapan
Terima Kasih
Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir dan memberikan doa restu.
Matur suksma
terima kasih
Om Santih Santih Santih Om
Siabros & Voalis
Dibuat dengan MomenIndahUndangan pernikahan digital